Jangan pernah percaya kalo ada pepatah yang bilang “gak ada orang aneh yang masuk mall.” (ada gitu pepatah kaya gitu?)
Kemaren, (07/08/2010) aku punya inisiatif jalan jalan ke mall sendirian, mau beli mmc buat HP. Hari itu aku berangkat ke mall jam 11 an dan belom sarapan. Alhasil aku makan dulu di sebuah restoran fast food yang punya tag line ‘jagonya ayam’. Sialnya, ternyata mas mas yang ngantri didepanku pesennya banyak banget. Gak tau lagi ngadain acara buka bersama anak jalanan atau disuruh emaknye mesenin snack buat arisan. Ditengah suasana yang menyebalkan itu, ada bapak bapak kampung (an) yang tiba tiba datang di belakangku dan teriak ke petugas kasir nya: ”Mas, saya kentang gorengnya satu!”. Pingin rasanya aku bilang: ”Heh pak, bapak gak liat apa ini ada orang lagi pada berdiri di depan bapak? Bapak tau gak sih fungsinya kita di sini? Ngantri woi ngantri! Lu kata ini burjo an yang sekali teriak, makanan langsung dibikinin” Dengan wajah antara nahan ketawa atau nahan kentut, mas petugas kasirnya bilang: “Maaf pak, tapi bapak harus antri dulu”
Belum ilang keselnya sama perkara si bapak, datang sesosok wanita yang lebih aneh lagi
Si Mbak: “hai, kamu sendirian ya?”
Aku: “hem iya”
Si Mbak: “Sama dong aku juga sendirian, boleh gabung gak? ntar duduknya barengan ya”
Aku: “Hah? ” (shock) ”hem iya” (dengan tampang curiga, ini orang jangan jangan tukang gendam yang pernah aku baca di koran)
Si Mbak: “Nama kamu siapa? Nama aku biiib (aku lupa namanya) ”
Aku: “Oh, delly (sambil mengulurkan tangan) ”
Tibalah giliran kami untuk memesan, dan mencari tempat duduk.
Si Mbak: “Kamu kuliah dimana? ”
Aku: “Ini, masih sma (dengan tampang sok polos padahal nipu) ”
Si Mbak: “Oh masih sma ya, kirain udah kuliahan. ”
Si Mbak: “Aduh aku bete banget nih tau gak, aku kan kesini tadi dianter cowok ku, tapi dia itu lagi marahan sama aku soalnya dia itu gak suka kalo aku kerja jadi SPG soalnya dikiranya aku cuma mau nyari nyari cowok. Aduh padahal kan gak gitu, kerja SPG kan gaji nya gede lho. ”
Aku: “Ei?" (ini orang ngapain lagi curhat sama aku, dipikirnya aku psikiater apa yang suka dengerin cerita orang gak jelas)
Si Mbak: “Kamu ikut aku aja kerja jadi SPG, gaji nya lumayan banget lho, kenalan aku yang anaka SMA biasanya pada mau kalo aku ajakin kerja jadi SPG. ”
Aku: ” Jadi SPG? Engga deh mbak, makasih. ” (emang tampangku tampang SPG ya?)
Kraasshh (suara si mbak nge gigit ayam pesenannya)
Aku: “Mbak gak cuci tangan dulu? ”
Si Mbak: “Iyanih, aku males cuci tangan”
Aku: “Oh” (great, padahal entah apa aja yang dia pegang tadi sehari ini, mungkin sempet megang pantat miliknya sendiri atau milik orang lain, and you know what? Si mbak ngelamutin ayam se tulang tulangnya)
Si Mbak: “Aduh cowokku ini posesif banget ya, tapi aku seneng deh punya cowok posesif gini, jadi ngerasa diperhatiin”
Aku: “...” (yaudah kalo seneng gak usah dicurhatin ke aku dong mbak)
Si Mbak: “Oiya rumah kamu mana? ”
Aku: “Jakal, kenapa? ” (boong)
Si Mbak: “Aduh pas banget, aku mau nganterin CV ke daerah sana. Bisa anterin gak? Kamu naik apa? Tapi aku gak bawa helm nih”
Aku: (what? Ini lagi ada kamera tersembunyi ya? Aku masuk reality show? Apa apaan ni orang?) ” aduh gak bisa, aku mau main kerumah temenku di daerah kotabaru” (bo’ong)
Si Mbak: “Oh gitu ya, iini aku telfon taksi motor daritadi gak bisa bisa nih” (sambil unjukin HP nya)
Aku: “ (It’s your own business mbak) “telfon lagi aja”
Si Mbak: “Aduh di sini nyari taksi dimana ya? ”
Aku: “Itu, didepan pintu masuk banyak taksi”
Si Mbak: “Oh yaudah kalo gitu ntar kamu temenin aku ya ke tempat taksi nya”
Alhasil habis makan, mau gak mau aku nganterin si mbak ke tempat para taksi pada mangkal. Dengan muka tanpa bersalah, si mbak pun melambaikan tangan dan tersenyum lebar dari dalam taksi. Aku tau kenapa dia tersenyum lebar, pasti dia mikir dia udah berhasil nyusahin orang yang baru aja dia kenal.
Untung aja si mbak bukan tukang gendam, padahal aku udah ada rencana mau teriak sekenceng kencengnya. Malahan sekarang aku menemukan fakta bahwa wajahku ini adalah wajah memelas yang perlu dikasihani sehingga si mbak itu kasihan sama aku dan nyamperin aku.
Alhasil, aku batal beli mmc soalnya udah terlanjur bete duluan (mutung an)
tragedi 7 agustus
at 9:13 PM
sesukses William Shakespeare
Ini tulisan lama. Dulu pas kelas satu SMA, aku dapet tugas Bahasa Indonesia bikin sebuah cerita. Dan dengan bodohnya aku bikin ini:
Minggu yang Indah
Hari ini hari minggu. Aku senang hari ini tidak perlu bangun pagi untuk siap-siap sekolah. Tapi ternyata aku salah, ibu membuka pintu kamarku dan segera mendekatiku.
“keluar sana, hari ini hari minggu yang cerah, kamu gak bosen tiap hari cuma lihat langit-langit kamarmu dan suasana kamarmu yang seperti baru saja terjadi perang antara kucing dan ayam milik tetangga sebelah?”
Mendengar ucapan Ibu tadi, dengan muka perpaduan antara atlet tinju yang dipukuli habis-habisan dan atlet ubercup yang menangis tiga hari tiga malam karena kalah di final, aku pun bergegas ke kamarmandi.
Tidak ingin merusak hari ini, aku berusaha mengawali hari minggu yang cerah ini dengan memaksakan diri bangun pagi-pagi untuk olahraga. Tunggu, saat ini langit belum terlihat cerah, bahkan aku belum melihat matahari memamerkan sinarnya. Sinar yang membuat sebagian wanita rela mengeluarkan biaya besar hanya untuk melawannya. Jika ditanya apa aku termasuk dari sebagian wanita itu, jawabannya ya. Dan bila suatu saat diadakan sensus penduduk yang menghitung seberapa besar jumlah penduduk Indonesia yang kekurangan vitamin D, mungkin aku akan menjadi salah satu diantara yang terparah.
Dengan gaya ala pragawati yang berjalan di catwalk bercampur hantu suster ngesot, aku berlarian mengelilingi komplex rumahku. Untung saja komplex rumahku kecil, jadi aku hanya jogging selama sepuluh menit saja.
Sesampainya di rumah, aku berharap akan ada segelas es jeruk menanti di meja makan setelah kerja kerasku menambah ke-ausan sepatu olahragaku. Tapi aku baru ingat, ternyata aku masih batuk. Akhirnya ku urungkan niatku untuk mengkonsumsi balok es sebesar biji jagung yang ada di freezer.
Aku duduk di ruang televisi dan menonton kartun. Klasik. Yang aku tonton sebuah judul kartun yang dari dulu hingga sekarang tetap berjaya dan belum juga tamat. Doraemon. Aku gak suka kartun itu, soalnya secara garis besar yang diceritakan itu monotone. Tapi namanya juga anak kecil yang masih polos, aku dapat dengan mudahnya di tipu oleh stasiun televisi. Disela-sela acaraku menonton doraemon, aku mendengar suara seperti monster danau lochness yang sedang menyanyi lagu yen ing tawang ono lintang. Ribut sekali suara itu. Ternyata itu suara cacing-cacing diperutku yang sedang protes meminta untuk diberi makan. Dan sebagai peternak cacing yang baik hati, aku segera mengambil jutaan butir nasi yang ada di magicjar. Aku pun segera sarapan.
Seusai sarapan, aku ingat aku ada janji mengerjakan tugas bahasa jawa tentang wayang dengan Vania. Aku bergegas mengambil handphone ku dan mengirimi dia sms:
”Jadi gak ngerjain bahasa jawa nya ?”
”Soalnya aku mau ada acara ..”
Menit demi menit berlalu, tapi dia tidak merespon sms ku . jarum jam pendek hampir menunjuk angka sepuluh. Akhirnya datang juga balasan dari nya. Dengan bahasa yang asal- asalan di berkata :
”Tangi turu aku ..”
”Lha piye ?”
”Kamu gak bisa ?”
”Ya wes, senen bae nang umahku ..”
Ooo, ternyata jam segitu dia belum bangun. Lain kali aku akan menelpon dia saja, hitung-hitung sekalian aku mengganggu tidurnya yang seperti kebo itu.Tapi aku baru menyadari bahwa tenyata aku gak jadi diajak pergi, malah ditinggal sendirian dirumah. Waktu-waktu yang kulalui setelah itu sangat standar dan monotone. Hanya menonton televisi, dan bermalas-malasan saja. Yah, namanya juga orang jawa, alon-alon waton kelakon.
Akhirnya aku merasa bosan dan melihat ada tumpukan kertas. Aku mendekati tumpukan kertas itu penuh harapan. Dengan perlahan aku buka tumpukan itu dan menyadari bahwa itu adalah sebuah koran, Kompas hari minggu. Akhirnya aku mendapat hiburan lain. Dengan semangat ala pejuang perang yang berlari menghindari bom sambil mencari kamar mandi umum untuk segera buang air, aku sama semangatnya mencari halaman favoritku. Bagian teka-teki silang. Namun setelah aku mencoba mengisi TTS itu, aku menyadari bahwa ternyata tidak semudah dimana saat aku mengisi TTS di majalah KUNTUM yang seringkali tidak bonafit. Dengan tekad yang sudah bulat sebulat butiran telur, aku berhenti mengisi dan kembali ke rutinitas awal yaitu menonton televisi.
Tak lama setelah itu, ibuku datang dan membawa sebuah tas yang ternyata isinya adalah foto-foto ku pada saat kecil. Aku tidak sabar melihatnya, pasti kulitku putih, terlihat bersih dan imut sekali. Tapi ternyata fakta yang terjadik di lapangan adalah kulitku seperti anak seorang petani yang dari kecil membantu orang tuanya menanam padi di sawah. Tak lupa dibalut dengan pakaian khas kiorban mode. Yaitu kembar. Mungkin ada sekitar tiga setel pakaian milikku dan kakak perempuanku yang sama persis. Seperti kami datang dari sebuah panti-asuhan yang sedang mengadakan piknik amal. Jika aku menjadi orang lain, Aku akan pura-pura tidak kenal dengan kedua anak kecil itu. Dari tadi yang aku pikirkan saat melihat foto-foto ini hanyalah kata JADUL. Karena memang semuanya jadul. Dari model rambut, pakaian, orang-orang disekitarnya, hingga kameranya.
Bunyi sms pun terdengar. Saat aku membukanya ternyata hanyalah sms iseng seseorang yang membicarakan tentang isu kartu Axis yang katanya kartu keramat dan telah menelan korban. Ternyata hantu zaman sekarang canggih, bisa main sms. Pasti dia juga yang menyumbang sebagian dari global warming yang terjadi baru-baru ini. Aku hanya mengacuhkan isi pesan itu dan kembali dengan kesibukanku tadi.
Adzan isya pun berkumandang, aku segera sholat karena ingin menonton final thomas cup antara china dan korea. Aku menjagokan china. Sementara itu temanku bertaruh menjagokan korea. Kami pun bersaing. Lagi-lagi acaraku terhenti karena ada sebuah sms yang memberitakan kabar buruk. Ternyata pengirimnya adalah Devi.
”Udah pada selesei buat apa belum?”
”Pada banyak gak ?”
”Cerpen ato novel ya ?”
Seketika aku pun tersentak. “Aduh, aku lupa bikin tugas cerpen bahasa Indonesia !”
Malasnya aku, aku masih saja menunggu jam delapan untuk mulai menyalakan komputer dan mulai mengetik. Hampir tiga puluh menit berlalu, belum ada ide yang muncul. Akhirnya sebuah pertanyaan terlintas.
”Gimana caranya bikin cerpen ?”
Ternyata pertanyaan itu curang, karena datangnya keroyokan. Akhirnya teman-temannya pun menyusul.
”Awalannya gimana coba ?”
”Terus, gimana ngatur halamannya ?”
”Temanya apaan ya ?”
Akhirnya aku memutuskan menulis apa yang aku lakukan pada hari ini. Yah walaupun sebagian ada yang di lebih-lebihkan. Dan selesai juga cerpen ku .
Kurasa, siapapun yang membaca cerpen diatas pasti reaksinya:
krik krik krik.. Sampah macam apa ini.
Dan mereka pun malas online selama setahun. Tapi jangan salah, bisa jadi dengan karya awal seperti ini aku bisa sesukses William Shakespeare atau J.K. Rowling (perasaan ceritaa bikinan mereka gak gitu gitu amat)
at 4:33 AM